Padang, 2 Oktober 2025 – Memasuki hari ketiga The 3rd SeIBa International Festival 2025 di Kampus III UIN Imam Bonjol Padang, suasana aula Gedung J kembali dipenuhi kehangatan budaya dari berbagai daerah. Kali ini, delegasi IAIN Kerinci tampil dengan suguhan berbeda, yaitu Tari Warisan Pusako Kincai, sebuah persembahan tradisional yang sarat makna dan nilai leluhur.
Penampilan memukau ini dibawakan oleh empat mahasiswa IAIN Kerinci, yakni Naim Munawaroh, Dannil Firnanda, Yuli Nur Radhwa, dan Wena Aprina. Dengan penuh penghayatan, mereka membawakan tarian yang memadukan tari Iyo-iyo, melambangkan semangat hidup, dengan tari Asek sebagai wujud syukur kepada leluhur.
Dahulu, Tari Warisan Pusako Kincai digunakan dalam pengobatan tradisional dengan menghadirkan kemenyan dan bunga gedang sebagai penawar luka batin maupun jasmani. Kini, tarian ini dihidupkan kembali sebagai bagian dari acara adat besar masyarakat Kerinci, seperti Kenduri Sko, sekaligus menjadi simbol keteguhan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Syair yang mengiringi penampilan,
“Bau kemenyan di ateh carano,
Asapnyo harum punyejuk jiwo.
Bungo gedang nan jadi penawar luko,
Mak nyo tenang kito busamo-samo.
Dahi tanoh kincai ngan saktai, kamai persembahkan Tari Warisan Pusako Kincai,”
menambah nuansa sakral dan menghadirkan keharuan bagi para penonton.
Dengan balutan busana adat Kerinci dan tata gerak yang lembut namun penuh makna, para penari sukses menghidupkan kembali warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Kerinci. Kehadiran kemenyan dan simbol bunga gedang di panggung memperkuat kesan autentik, membuat penonton seolah larut dalam suasana ritual adat yang sakral.
Tepuk tangan panjang dan sorakan meriah menggema usai pertunjukan, menandakan bahwa Tari Warisan Pusako Kincai berhasil memikat hati audiens internasional. Penampilan ini tidak hanya memperkenalkan seni tradisional Kerinci, tetapi juga menjadi pesan kuat bahwa kearifan lokal adalah warisan tak ternilai yang layak dijaga dan diteruskan.
Bagi para penari, membawakan Tari Warisan Pusako Kincai di panggung internasional merupakan kebanggaan tersendiri. Mereka berharap tarian ini dapat memperkuat rasa cinta generasi muda terhadap tradisi, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat dunia tentang kekayaan budaya Kerinci.




