Membangun Solidaritas dan Kebersamaan IPII 2026, Perkuat Solidaritas dan Kompetensi Mahasiswa

oleh -56 Dilihat

Sanggaran Agung, 13 September 2026 – Kegiatan “Membangun Solidaritas dan Kebersamaan IPII 2026” diselenggarakan pada Minggu, 13 September 2026, bertempat di Wisata Pohon Pinus Kerinci, Sanggaran Agung. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) untuk mempererat solidaritas dan kebersamaan, sekaligus menambah wawasan mengenai bidang keilmuan, perkembangan teknologi, dan prospek kerja di bidang perpustakaan dan informasi.

Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 09.30 WIB dengan pembukaan formal, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, Ketua Pelaksana, Aril Saputra, menyampaikan laporan kegiatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Dekan III FUAD, Dr. Norman Ohira, M.Ag., M.Pd.

Dalam laporannya, Aril Saputra menyampaikan bahwa mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam sangat antusias dan semangat dalam mengikuti serta ikut menyukseskan kegiatan “Membangun Solidaritas dan Kebersamaan IPII 2026.” Antusiasme mahasiswa terlihat dari keterlibatan mereka dalam mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia.

Menurut Aril, partisipasi mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kelancaran kegiatan sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas antarmahasiswa IPII. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa dan panitia yang telah berpartisipasi serta memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan.

Selanjutnya, Dr. Norman Ohira, M.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam memiliki peluang kerja yang cukup tinggi seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan terhadap pengelolaan informasi.

Beliau mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan selama menjalani perkuliahan sebagai bekal dalam menghadapi dunia kerja. Selain kemampuan akademik, mahasiswa juga diharapkan mampu membangun kerja sama dan menjaga kekompakan antarmahasiswa.

Dr. Norman Ohira berharap mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam dapat terus solid dalam berbagai hal, baik dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan. Solidaritas tersebut diharapkan dapat memberikan pengaruh yang baik bagi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), IAIN Kerinci, serta sesama mahasiswa.

Aras Satria Agusta Bahas Peran Perpustakaan Menuju Peradaban Informasi

Memasuki agenda berikutnya, peserta mendapatkan penyampaian materi dari Aras Satria Agusta, S.IP., M.A. dengan tema “Dari Perpustakaan Menuju Peradaban Informasi.” Penyampaian materi tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan.

Dalam pemaparannya, Aras menjelaskan bahwa perpustakaan sering dipahami secara sederhana sebagai tempat menyimpan buku dan melayani peminjaman. Padahal, di balik rak-rak buku terdapat pekerjaan penting untuk menjaga pengetahuan agar tetap dapat ditemukan, dipahami, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurut Aras, Ilmu Perpustakaan dan Informasi tidak hanya berbicara tentang buku, tetapi juga tentang manusia dan pengetahuan. Dalam masyarakat modern, persoalan yang dihadapi bukan lagi hanya kekurangan informasi, melainkan kelimpahan informasi. Setiap hari masyarakat berhadapan dengan berita, data, dokumen, media sosial, dan berbagai konten digital yang terus bertambah.

Karena itu, kemampuan menemukan informasi saja tidak cukup. Masyarakat perlu mampu menilai apakah informasi tersebut benar, relevan, dan dapat dipercaya. Di sinilah profesional informasi memiliki posisi penting sebagai penghubung antara manusia dan pengetahuan.

Aras juga menjelaskan bahwa perpustakaan dapat dipandang sebagai memori peradaban. Buku, arsip, manuskrip, dokumen, dan berbagai rekaman pengetahuan memungkinkan generasi baru mempelajari pengalaman masa lalu sehingga tidak harus memulai dari titik nol.

Perkembangan teknologi digital kemudian mengubah bentuk memori tersebut. Pengetahuan tidak lagi hanya berada dalam buku tercetak, tetapi juga hadir dalam database, jurnal elektronik, repository, arsip digital, laman web, dan berbagai platform informasi. Perubahan tersebut justru memperluas ruang kerja dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi.

Dalam materi tersebut, mahasiswa juga diajak memahami hubungan antara data, informasi, dan pengetahuan. Data memperoleh makna ketika ditempatkan dalam konteks. Informasi yang dipahami dapat membentuk pengetahuan, sedangkan pengetahuan menjadi dasar dalam menentukan keputusan. Keputusan kemudian menentukan tindakan. Profesional informasi memiliki peran dalam rangkaian proses tersebut.

Nilai Islam dan Tantangan AI

Aras turut menjelaskan makna “Islam” dalam Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Islam tidak seharusnya hanya berhenti sebagai identitas kelembagaan, tetapi juga perlu hadir sebagai orientasi nilai. Tradisi Islam menempatkan ilmu dan aktivitas membaca dalam posisi penting. Semangat iqra’ tidak hanya mengajarkan membaca teks, tetapi juga membaca realitas.

Karena itu, kemampuan teknis perlu berjalan bersama integritas dan amanah. Informasi yang dikelola secara tidak jujur dapat menyesatkan, data pribadi yang disalahgunakan dapat merugikan manusia, dan informasi yang dimanipulasi dapat memperbesar konflik.

Materi juga membahas tantangan yang muncul seiring perkembangan kecerdasan buatan atau AI dalam ekosistem informasi. AI mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan berbagai konten dalam hitungan detik. Teknologi tersebut membuka peluang besar bagi perpustakaan dan dunia informasi, tetapi juga menghadirkan persoalan seperti akurasi, bias, plagiarisme, deepfake, privasi, dan hak cipta.

Aras menekankan bahwa mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam tidak perlu melihat AI sebagai lawan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan AI secara kritis dan etis. Mesin dapat membantu menghasilkan informasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab dalam menentukan apakah informasi tersebut layak dipercaya dan digunakan.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan di bidang ini tidak hanya menghasilkan tenaga yang terampil secara teknis. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca, menulis, meneliti, mengelola data, memahami teknologi, dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Kajur IPII Dorong Mahasiswa Tingkatkan Skill dan Prestasi

Setelah penyampaian materi oleh Aras Satria Agusta, kegiatan turut dihadiri dan dilanjutkan dengan penyampaian dari Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII), Fitri Handayani, M.A.

Dalam penyampaiannya, Fitri Handayani menekankan pentingnya mahasiswa IPII untuk terus menjaga solidaritas dan kebersamaan dalam segala hal. Menurutnya, kekompakan antarmahasiswa menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan jurusan yang saling mendukung, baik dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan.

Kajur IPII juga menyampaikan pentingnya mahasiswa memiliki keterampilan atau skill selama menjalani perkuliahan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Ia menyampaikan bahwa bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi memiliki peluang kerja karena kebutuhan terhadap pengelolaan informasi terdapat di berbagai instansi pemerintahan maupun perusahaan besar di Indonesia.

Selain keterampilan, Fitri Handayani berharap setiap mahasiswa IPII dapat memiliki karya dan prestasi selama menjalani masa perkuliahan. Mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan potensi, aktif dalam berbagai kegiatan, serta menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari pengalaman dan portofolio mereka.

Harapan tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa IPII untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan, pengalaman, kreativitas, serta prestasi yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi masa depan.

Memperkuat Solidaritas melalui Kegiatan Kelompok

Setelah rangkaian kegiatan formal dan penyampaian materi, peserta kembali ke gugus masing-masing untuk melakukan persiapan lomba. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ISHOMA pada pukul 12.00–13.00 WIB, pembentukan ketua kelompok, serta berbagai permainan yang telah dipersiapkan panitia.

Berbagai permainan tersebut meliputi tebak suara, bisik berantai, estafet tepung, dan balon dangdut. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara untuk membangun komunikasi, kerja sama, kekompakan, dan kebersamaan antarmahasiswa IPII.

Kegiatan “Membangun Solidaritas dan Kebersamaan IPII 2026” kemudian ditutup pada pukul 16.30 WIB secara nonformal oleh Ketua Pelaksana, Aril Saputra, dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai bidang keilmuan, perkembangan teknologi, dan prospek kerja, tetapi juga memiliki ruang untuk memperkuat solidaritas, kebersamaan, komunikasi, dan kerja sama antarmahasiswa.

Kegiatan ini menjadi momentum bagi mahasiswa IPII untuk terus mengembangkan kompetensi, menghasilkan karya dan prestasi, serta membangun kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar FUAD dan IAIN Kerinci.