Anindya H. Inka Lyln
Dikala malam menyerang
Suram dan remang yang menemani
Astungkara katanya.
Lengkara yang selalu terbayang
Menambah lara dalam jiwa
T’lah hilang pengharapan dalam kehidupan
Kembali terhempas dengan kenyataan.
Panorama nan syahdu
Mesin ketik yang saling bersahutan
Seakan hebat membuat karya
Siap menjadi sang juara.
“Akulah sang juara dari para juara”
Ambisi besar nan terpendam
Seakan bom waktu yang siap sedia bergelolak.
28 Oktober
Hari bersejarah bagi Indonesia
Namun, basuhan air mata sang juara terus mengalir
Sang juara yang dahulu selalu bersinar
Perlahan cahaya itu kembali redam
Hilang tertekan dalam kenyataan.
“ujung tombak sang juara”
Gelar yang selalu dibanggakan
Kini tombak itu patah
Tak kunjung tumbuh
Sang penombak kembali mati
Entah kapan kan hidup kembali
Katakanlah pada sang juara
Jangan pongah
Kau akan kalah
Redamlah amarah
Maka kau akan hidup kembali
