Kuliah Umum Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Pengembangan Studi Usuhuluddin Adab dan Dakwah

oleh -189 Dilihat

Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN KERINCI menggelar kuliah umum bertema “Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Pengembangan Studi Ushuluddin Adab dan Dakwah” pada Kamis, 11 September 2025, di aula lantai 3 gedung rektorat IAIN KERINCI.

Acara diawali dengan menyayikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Dr.Jalwis,M.Pd., dalam sambutan dan arahannya menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) sebaiknya disikapi secara positif. Menurutnya, AI bukanlah ancaman, melainkan peluang besar yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk dakwah.

“AI dapat membantu menjawab pertanyaan masyarakat dalam konteks dakwah, asalkan tetap berpijak pada Al-Qur’an serta tidak menjadikan manusia bergantung sepenuhnya pada AI,”

ungkapnya.

Selanjutnya, Rektor IAIN KERINCI, Dr.Jafar Ahmad,M.Si., memberikan arahan kepada mahasiswa. Ia menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti kemampuan dasar manusia. Rektor juga menyoroti rendahnya tingkat literasi di masyarakat, sehingga peningkatan literasi menjadi hal penting agar ketrampilan mahasiswa tetap terjaga.

Sekaligus, Rektor IAIN KERINCI Dr.Jafar Ahmad,M.Si membuka secara resmi kegiatan kuliah umum ini.

Kuliah umum Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) menghadirkan Marta Jaya,S.Pd.,M.Pd. sebagai pemateri utama. Dalam penyapaiannya, ia menekankan pentingnya growth mindset dalam menghadapai perkembangan teknologi. Ia mencontohkan kegagalan beberapa perusahaan besar seperti: Kodak, Blackberry dan Nokia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Lebih lanjut, pemateri Marta Jaya,S.Pd.,M.Pd. memaparkan bahwa perkembangan AI telah melalui fase Revolusi Industri 4.0 di Jepang (2010), Society 5.0 (2019), hingga era Generative AI pada 2022. Menurutnya, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti mujahadah belajar.

“Kecanggihan teknologi harus tetap diimbangi, dengan nilai adat, kejujuran, dan etika,” jelasnya.

Dalam konteks Ushuluddin, pemanfaatan AI dapat digunakan untuk membantu penafsiran Al-Qur’an dan Hadis, menganalisis isu-isu teologis, mendeteksi pola dalam naskah, memudahkan perbandinagan teks, hingga penerjemahan otomatis.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama. Kuliah umum ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa agar bijak memanfaatkan teknologi, sekaligus menjaga nilai literasi, etika, dan spiritualitas dalam pengembangan ilmu.