
“Preserving Authentic Knowledge and Values in The Age of AI: Understanding Diaspora Culture, Religious Texts, and Reformulation of Islamic Studies.”
Konferensi ini menghadirkan tiga pemateri internasional yang memaparkan isu-isu aktual tentang kecerdasan buatan, autentisitas teks keagamaan, serta pelestarian budaya lokal di era digital.
Dalam pembukaan kegiatan, Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Kerinci, Dr. Jalwis M.Ag., menyampaikan bahwa perkembangan teknologi khususnya kecerdasan buatan telah menghadirkan perubahan besar dalam lanskap keilmuan, termasuk studi Islam. Dekan juga menyampaikan apresiasi kepada para pemateri dari Brunei Darussalam, Malaysia, dan Indonesia yang telah memberikan kontribusi berharga dalam memperkuat khazanah keilmuan di FUAD dan IAIN Kerinci.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Rektor IAIN Kerinci Dr. Jafar Ahmad, M.Si., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk menjawab tantangan global, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan teknologi berbasis AI dalam kajian Islam.
Beliau menuturkan:
“Perubahan yang dibawa oleh AI adalah realitas yang tidak dapat dihindari. Yang dibutuhkan saat ini bukan penolakan, melainkan pemahaman dan pemanfaatan yang tepat agar teknologi mampu memperkuat bukan menggantikan nilai autentik dalam tradisi ilmu Islam.”
Rektor juga berharap konferensi ini dapat memperluas jejaring akademik IAIN Kerinci serta memperkuat reputasi kampus di tingkat internasional.
Ketua panitia penyelenggara, Dr. Norman Ohira,M.Ag., memberikan apresiasi besar atas antusiasme peserta dan kelancaran pelaksanaan konferensi. Ia menekankan bahwa ICIS tahun ini menjadi titik penting dalam mempertemukan gagasan-gagasan baru terkait AI dan kajian Islam.
Beliau menyampaikan:
“ICIS 2025 bukan hanya tentang membahas AI, tetapi tentang bagaimana komunitas akademik mampu menjaga relevansi dan integritas ilmu Islam di tengah arus teknologi yang bergerak sangat cepat. Kami ingin memastikan bahwa forum ini menjadi ruang produktif untuk berbagi pengetahuan sekaligus merumuskan arah baru bagi pengembangan studi Islam di masa depan.”
Dr. Norman Ohira,M.Ag., juga menambahkan bahwa kerja sama lintas negara dalam konferensi ini membuktikan bahwa isu-isu strategis dalam studi Islam tidak bisa dilepaskan dari dialog global yang berkesinambungan.
Konferensi ini menghadirkan tiga pembicara yang masing-masing menyampaikan tema yang sangat relevan:
1. Prof. Rehat Zanaty (Brunei Darussalam)
“Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan studi Islam untuk menjaga keaslian warisan dan memanfaatkan teknologi.”
2. Dr. Arwansyah bin Hussein (Malaysia)
“Keaslian vs Algoritma: Masa depan riwayah dan otoritas teks dalam sumber keagamaan Islam.”
3. Prof. Dr. H. Zaenuddin H. Prasojo, MA (Indonesia)
“Revitalisasi budaya lokal dan pelestarian warisan budaya dalam konteks modern melalui perspektif studi Islam.”
Para pemateri menekankan bahwa AI adalah alat bantu yang kuat, tetapi harus diarahkan agar tidak menghilangkan nilai dasar, autentisitas teks, serta kearifan lokal masyarakat.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai daerah dan universitas, baik nasional maupun internasional. Peserta memberikan kesan yang sangat positif terhadap penyelenggaraan konferensi.
Salah satu peserta menyampaikan:
“ICIS 2025 memberikan wawasan baru tentang bagaimana AI bisa digunakan secara positif dalam studi Islam. Pembahasan materi sangat aktual dan memperkaya perspektif kami sebagai akademisi muda.”
Peserta lain menambahkan:
“Konferensi ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang jejaring riset internasional. IAIN Kerinci berhasil menyelenggarakan acara yang berkualitas dan inspiratif.”
Para peserta berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara berkala, karena sangat membantu memperluas cakrawala akademik di era yang terus berubah.
Dengan terselenggaranya The 4th ICIS 2025, IAIN Kerinci kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah berkualitas yang mengaitkan tradisi keilmuan Islam dengan dinamika teknologi modern. Konferensi ini menjadi saksi penting bagaimana akademisi lintas negara bersama-sama membahas masa depan ilmu Islam di tengah gelombang besar kecerdasan buatan.
Melalui kegiatan ini, IAIN Kerinci tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi penggerak diskursus global tentang hubungan antara AI, budaya, dan studi Islam sebuah langkah besar menuju penguatan posisi kampus secara internasional.